Nasehatku Bagi Ahlus Sunnah (I)

Penulis: Syaikh Muqbil Bin Hadi Al-Wadi’i
http://darussalaf. or.id/stories. php?id=23

Diambil dari milis sebelah

Hendaklah mereka menjauhi sebab-sebab perpecahan dan perselisihan , dimana aqidah Ahlus Sunnah satu dan visi mereka satu, tidak ada pada mereka alas an untuk berpecah dan berselisih kecuali kejahilan, kelaliman, dan syetan. Dalam Shahih Muslim:
“Sesungguhnya syetan telah berputus asa untuk disembah oleh orang-orang yang ahli shalat di jazirah Arab, hanya saja dengan dia menaburkan benih perpecahan diantara mereka.”

Perselisihan itu buruk, sebagaimana yang dikatakan oleh Abdullah bin Mas’ud sewaktu Utsman mengimami orang-orang shalat di Mina sebanyak empat raka’at, maka Abdullah bin Umar beristirja (yakni mengucapkan Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji’un) lalu berkata : “Saya telah melakukan shalat bersama Rasulullah sebanyak dua rakaat, bersama Abu Bakar dua rakaat, juga bersama Umar (dua rakaat).”

Muslim meriwayatkan dalam Shahihnya dari Ibnu Mas’ud yang berkata: Dahulu Rasulullah meluruskan pundak-pundak kami untuk shalat dan Beliau bersabda:
“Janganlah kalian berbeda-beda, maka hati kalian akan berselisih. Hendaklah yang berada dibelakangku diantara kalian: orang-orang yang dewasa dan berilmu lalu berikutnya lalu yang berikutnya!”

Imam al-Bukhari meriwayatkan dalam Shohihnya dari an-Nu’man bin Basyir,ia berkata bahwa Rasulullah bersabda:
“Benar-benar kalian akan meluruskan shaf kalian ataukah Allah akan menyelisihkan antara wajah-wajah kalian.”

Dari al-Barra’bin’Azib,ia berkata:”Dahulu Rasulullah menyusup-nyusupi shaf dari satu sisi ke sisi lainnya,Beliau meratakan dada dan pundak kami seraya beliau bersabda:
“Janganlah kalian berbeda-beda sehingga qalbu kalian berselisih.” Rasulullah juga bersabda:
“Sesungguhnya Allah dan para malaikat ber sholawat untuk shaf-shaf pertama”
Diriwayatkan oleh Abu Dawud dengan sanad shohih, rijalnya rijal shohih, kecuali Abdurrahman bin Usajah, namun an-Nasaai telah mentsiqohkannya.

Dalam Shohihain dari Ibnu Abbas,ia berkata : Ketika menjelang kematian Nabi sementara dirumah Beliau ada beberapa orang laki-laki termasuk Umar bin al-Khaththab,
Beliau bersabda: ”Kemarilah saya akan menuliskan bagi kalian sebuah tulisan yang kalian tidak akan sesat setelahnya”.Umar berkata,”Sesungguhnya Nabi telah merasakan sakit yang sangat sementara pada kalian ada Al-Qur’an,cukuplah bagi kita Kitabullah.”
Akhirnya orang-orang yang ada dirumah itu berselisih dan bertengkar, di antara mereka ada yang berkata,”Dekatkanlah agar Rasulullah menuliskan buat kalian sebuah tulisan hingga kalian tidak akan tersesat setelahnya”. Tetapi diantara mereka juga ada yang mengatakan seperti perkataan Umar. Sehingga tatkala mereka sudah sangat gaduh dan berselisih disisi Rasulullah, Beliau bersabda:”Pergilah kalian dariku!”.
’Ubaidullah berkata: Dahulu Ibnu ‘Abbas berkata:”Sesungguhnya bencana, benar-benar bencana apa yang telah menghalangi Rasulullah untuk menuliskan bagi mereka tulisan itu, yakni perselisihan dan kegaduhan mereka.”

Al-Bukhari meriwayatkan dalam Shohihnya dari ‘Ubadah bun ash-Shamit, ia berkata: Nabi keluar untuk mengabarkan kami tentang Lailatul Qadr.Lalu tiba-tiba ada dua orang kaum muslimin yang bertengkar,maka Rasulullah bersabda:
“Saya tadinya keluar hendak mengabarkan kalian tentang malam Lailatul Qadr,lalu si fulan dan fulan bertengkar,maka hal itu terangkat {terlupakan} .Semoga itu lebih baik bagi kalian,carilah di kesembilan,ketujuh, dan kelima!”

Muslim meriwayatkan dalam Shohihnya dari Abi Sa’id al-Khudri yang berkata:”Rasulullah beri’tikaf disepuluh hari pertengahan Ramadhan untuk mencari Lailatul Qadar sebelum ditampakkan bagi Beliau. Ketika selesai sepuluh hari pertengahan Ramadhan, Beliau memerintahkan untuk merobohkan bangunan masjid untuk diperbaiki. Setelah itu, ditampakkan bagi beliau bahwa Lailatul Qodr disepuluh terakhir,maka Beliaupun memerintahkan untuk membangunnya, iapun dibangun kembali. Kemudian Beliau keluar menemui orang-orang seraya bersabda:
“Wahai manusia! Sesungguhnya tadi telah ditampakkan kepadaku Laialtul Qadr, serta saya telah keluar untuk mengabarkan kalian tentangnya, namun tiba-tiba datang dua laki-laki yang berpekara, keduanya disertai syetan, sehingga sayapun terlupakan (Lailatul Qadr), maka carilah di sepuluh terakhir Ramadhan!”
Sampai ucapan Imam Muslim: Ibnu Khallad meriwayatkan ‘Dua laki-laki yang bertengkar’ sebagai pengganti dari ‘dua laki-laki yang berpekara’.

Abu Dawud meriwayatkan dengan sanad yang shahih dari Abi Tsa’labah al-Khusyani, ia berkata bahwa Umar berkata: Dahulu orang-orang kalau Rasulullah singgah di suatu tempat, merekapun berpencar ke perbagai celah bukit dan lembah, maka Rasulullah bersabda:
“Sesungguhnya berpencarnya kalian di celah-celah bukit dan lembah ini, hanyalah timbul sebab syetan.”
Maka tidaklah Beliau singgah di suatu tempat setelah itu melainkan semua mereka berkumpul, sehingga diungkapkan (tentang mereka): “Andaikata dihamparkan satu kain untuk mereka maka itu sudah mencukupi.”

Al-Bukhari meriwayatkan dalam shahihnya dari Ali yang berkata: Putuskanlah sebagaimana dahulu kalian putuskan, sebab sesungguhnya saya tidak suka perselisihan, agar manusia menjadi satu jama’ah atau saya wafat sebagaimana wafatnya para shahabatku.”

Kalian –Alhamdulilah- wahai Ahlus Sunnah!
Bukanlah seperti Rawafidh (orang-orang Syiah Rafidhah) yang sebagian mereka mengkafirkan sebagian lainnya, demikian juga para pemimpin Mu’tazilah, sebagian mereka mengkafirkan sebagian lainnya, sebagaimana yang tersebut dalam kitab al-Milal wan Nihal. Adapun Ahlus Sunnah –Alhamdulilah- , kebanyakan perselisihan mereka hanya tentang makna kalimat hadits dalam perkara-perkara ibadah yang memang datang dari Peletak syari’at secara beragam atau hanya tentang suatu hadits yang sisi pandang mereka berbeda-beda dalam menshahihkan atau mendhaifkan, dan lain sebagainya dari sebab-sebab perbedaan pendapat yang telah disebutkan oleh Ibnu Taimiyyah.

Kalian mengetahui wahai Ahlus Sunnah! Kalau para musuh kalian sangat merindukan agar kalian tertimpa bencana….Kalian tahu kalau para musuh Islam tidaklah menakuti selain kalian, sehingga mereka sangat berambisi untuk memecah belah kekuatan persatuan kalian dengan segala macam cara.

Sesungguhnya kewajiban Ahlus Sunnah untuk memiliki kesiapan memberikan solusi bagi semua persoalan dunia, merekalah yang mampu untuk itu dan pantas untuk itu, merekalah orang-orang yang telah Allah beri pemahaman terhadap Kitabullah dan Sunnah Rasul secara benar.

Sesungguhnya Ahlus Sunnah ternilai sebagai mayoritas penduduk dunia Islam, hanya saja berpecah belahnya mereka, berselisihnya mereka, dan kejahilan masing-masing bangsa tentang ihwal bangsa selainnya telah membuat mereka meleleh dalam pandangan masyarakat dunia. Namun kita benar-benar mengharapkan semoga Allah memberikan taufiq kepada semua yang tegak menda’wahkan Sunnah untuk benar-benar memperhatikan keadaan Ahlus Sunnah serta menutupi kekurangan dan keberadaannya, semoga Allah mengumpulkan kekuatan mereka.

Bukankah kalian wahai Ahlus Sunnah, manusia yang paling pantas dikumpulkan kekuatannya dan disatukan kalimatnya?! Rabbul Izzah berfirman dalam Kitab-Nya yang mulia:
“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai.” (Ali-Imran:103)
Nabi bersabda sebagaimana yang tersebut dalam shahihain dari hadits Abi Musa:
“Seorang mukmin bagi mukmin lainnya laksana satu bangunan yang sebagiannya menguatkan sebagian lainnya.”
Dan beliau bersabda sebagaimana dalam shahihain dari hadits an-Nukman bin Basyir:
“Perumpamaan kaum mukminin dalam saling cinta dan sayang mereka laksana satu tubuh, jikalau ada satu anggota tubuh yang mengeluh, maka seluruh tubuh ikut merasakan demam dan bergadang.”

Rafidhah menyibukkan dunia dengan khabar beritanya dan menyesatkan banyak manusia, bahkan menghalangi mereka dari menunaikan manasik (ibadah) haji. Dimana manusia telah datang dari segala penjuru yang jauh untuk menunaikan manasik haji dan untuk mengingat Allah di berbagai tempat yang mengandung syiar penuh barokah itu, lalu tiba-tiba keluar Rafidhah melakukan demonstrasi jahiliyah sambil meneriakkan”khomeini…Khomeini….!!”

Maka siapakah yang sanggup untuk menghancurkan perkumpulan macam ini yang melakukan pelanggaran terhadap perintah Allah dan menjadikan haji sebagai syiar anarkhis, kericuhan, dan seruan jahiliyah…?1 Tidak ada yang sanggup selain Ahlus Sunnah- dengan izin Allah jika kalimat mereka bersatu dan mereka benar-benar sebagai Ahlus Sunnah sejati.
Sesungguhnya kebangkitan Islam yang telah dikehendaki oleh Allah ini membutuhkan perhatian, lalu siapakah yang akan memperhatikannya selain dari Ahlus sunnah?!

(Dikutip dari buku terjemah berjudul “Mutiara Nasehat Syaikh Muqbil bin Hadi Al Wadi’I Kepada Para Penuntut Ilmu dan Salafiyin, Penerbit Pustaka Al-Haura)

sumber: http://salamislam.wordpress.com/2008/12/27/nasehatku-bagi-ahlus-sunnah-i/

Buah Keikhlasan

Suatu hari, ada seorang pemuda yang sedang berlibur ke rumah neneknya di desa. Saat tiba di sana, setelah melepas rindu dan beristirahat sejenak, nenek menghidangkan sepiring irisan buah mangga yang menggiurkan warna dan aromanya.

“wah, harum dan manis sekali nek. Sedang musimnya ya? Saya sudah lama sekali tidak menjenguk nenek, sehingga tidak tahu kalau nenek menanam pohon mangga yang berbuah lebat dan seenak ini rasanya.” Ujar si pemuda sambil terus melahap mangga itu.

Sambil tersenyum nenek menjawab, “makanya sering-seringlah menjenguk nenek, nenek rindu cucu nenek yang nakal dulu. Pohon mangga itu sebenarnya bukan nenek yang menanam. Kamu mungkin lupa, waktu kamu kecil dulu, setelah menyantap buah mangga, kamulah yang bermain lempar-lemparan biji mangga yang waktu itu kamu makan. Nah, ini hasil kenakalan kamu itu, telah tumbuh menjadi pohon mangga dan sekarang sedang kau nikmati buahnya.”

“sungguh nek? Buah mangga ini hasil kenakalan waktu kecil ku dulu yang tidak di sengaja? Wah, hebat sekali. Aku tidak merasa pernah menanam, tetapi hasilnya bisa aku nikmati setelah sekian tahun kemudian, benar-benar sulit di percaya.” Si pemuda tertawa gembira.

Nenek itu lantas berkata, “ cucuku, walau engkau tidak sengaja melempar biji mangga di halaman itu, tetapi bila tanah lahannya subur dan terpelihara, dia tetap akan tumbuh. Dan, sesuai hukum alam, saat musim buah tiba, dia pasti akan berbuah. Sedangkan rasa buahnya manis atau tidak itu adalah sesuai dengan bibit yang kita tanam.”

Malam harinya, merenungkan semua ucapan nenek. Karena merasa penasara, di ambilnya biji buah mangga sisa di meja dan di belahnya menjadi dua. Dia ingin tahu sebenarnya apa yang ada di dalam biji buah mangga itu sehingga bisa menghasilkan rasa manis yang membedakan dengan biji buah mangga yang lain. Ternyata dia tidak menemukan perbedaan apapun.

Melihat tingkah si cucu, sang nenek yang diam-diam memperhatikan kemudian menyela, “ cucuku, semua biji buah jika di lihat dari luar akan tampak sama semua. Tetapi sesungguhnya, unsur yang ada di dalam tiap biji buah itu berbeda. Perbedaan itulah yang akan menghasilkan rasa, aroma, dan warna setiap pohon mangga yang berbeda pula. Semua tergantung inti buahnya. Demikian pula dengan manusia cucuku. Dari tampak luarnya, setiap manusia adalah sama . tetapi, yang menentukan apakah dia bisa berhasil atau tidak adalah kualitas unsur-unsur yang ada di dalamnya.” Nenek pun melanjutkan wejangannya dengan nada lembut, “ nah, ternyata alam mengajarkan banyak kepada kita. Maka, bila ingin hasil yang baik, kamu harus meiliki unsur kualitas yang baik pula, apakah kamu mengerti?”

“terima kasih nek, saya sungguh bersyukur memutuskan datang kesini. Semua ucapan nenek akan saya jadikan bekal untuk lebih giat belajar dan membenahi diri agar hidup lebih berkualitas,” ucapnya sambil memeluk tubuh rapuh sang nenek.

Sahabat, biji akan tumbuh dengan baik dan cepat di tanah yang subur dan terjaga, demikian juga anak-anak dan Generasi kita akan tumbuh dan lahir menjadi Manusia baru yang hebat di tengah-tengah lingkungan yang tersistem secara kondusif dan dijaga oleh oleh orang-orang yang Visioner dan senantiasa mempertahankan Idealisme….

Biji boleh kita buang sembarangan tidak seorangpun akan melarang, tetapi kita akan lebih cerdas dan bijak jika biji itu kita buang ditempat yang tepat..

Dikutip dari : http://www.kaskus.us

 

Beberapa Larang Syariat

Dari Abu Hurairah radhiallahu anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda:

الْإِيمَانُ بِضْعٌ وَسِتُّونَ شُعْبَةً وَالْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنْ الْإِيمَانِ

“Iman memiliki lebih dari enam puluh cabang, dan malu adalah bagian dari iman”. (HR. Al-Bukhari no. 8 dan Muslim no. 50)

Imran bin Hushain radhiallahu anhu berkata: Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

الْحَيَاءُ لَا يَأْتِي إِلَّا بِخَيْرٍ

“Sifat malu itu tidak datang kecuali dengan membawa kebaikan.”(HR. Al-Bukhari no. 6117 dan Muslim no. 37)

Dari Abu Said Al-Khudri radhiallahu anhu dia berkata:

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَشَدَّ حَيَاءً مِنْ الْعَذْرَاءِ فِي خِدْرِهَا وَكَانَ إِذَا كَرِهَ شَيْئًا عَرَفْنَاهُ فِي وَجْهِهِ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah orang yang sangat pemalu, lebih pemalu dari gadis pingitan. Apabila beliau tidak menyenangi sesuatu, maka kami dapat mengetahuinya di wajah beliau.” (HR. Al-Bukhari no. 6119 dan Muslim no. 2320)

Abu Mas’ud radhiallahu anhu berkata: Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

إِنَّ مِمَّا أَدْرَكَ النَّاسُ مِنْ كَلَامِ النُّبُوَّةِ الْأُولَى إِذَا لَمْ تَسْتَحْيِ فَاصْنَعْ مَا شِئْتَ

“Sesungguhnya di antara ucapan yang diperoleh manusia dari kenabian yang pertama adalah: Jika kamu tidak mempunyai rasa malu, maka berbuatlah sesukamu.” (HR. Al-Bukhari no. 6120)

Penjelasan ringkas:

Malu adalah suatu akhlak terpuji yang mendorong seseorang untuk meninggalkan suatu amalan yang mencoreng jiwanya, karena akhlak ini bisa mendorong dia untuk berbuat kebaikan dan menjauhi kemungkaran. Dia merupakan hijab yang bersifat umum yang diperintahkan kepada setiap muslim baik dia laki-laki maupun wanita. Karenanya, terkhusus bagi kaum wanita, mereka diwajibkan untuk mengenakan dua jenis hijab: Hijab umum yaitu rasa malu dan hijab khusus yang berupa pakaian. Wanita mana saja yang berhijab dengan hijab khusus tapi menanggalkan hijab umumnya, maka pada hakikatnya dia telah menampakkan perhiasannya dan menanggalkan hijabnya yang sebenarnya. Karenanya, hijab umum tidak kalah pentingnya dengan hijab khusus.

Rasa malu merupakan bagian dari keimanan bahkan dia merupakan salah satu indikator tinggi rendahnya keimanan seorang muslim. Karenanya, manusia yang paling beriman -yaitu Rasulullah shallallahu alaihi wasallam- adalah manusia yang paling pemalu, bahkan melebihi malunya para wanita yang dalam pingitan.

Intinya, malu tidaklah menghasilkan kecuali kebaikan dan dia tidaklah datang kecuali dengan membawa kebaikan pula. Karenanya wasiat malu ini merupakan wasiat dari para anbiya` sejak dari zaman ke zaman kepada umatnya, agar mereka bisa menjaga sifat malu mereka, karena hal itu akan menjaga kehormatan mereka di dunia dan jasad mereka di akhirat dari api neraka.

Di antara bentuk malu yang paling utama adalah malu kepada Allah, seperti malu jika Allah Ta’ala melihatnya ketika dia sedang berbuat maksiat atau malu kepada-Nya untuk menampakkan auratnya walaupun dia sedang sendirian. Termasuk malu ibadah adalah malunya seorang wanita dari menampakkan perhiasannya kepada siapa yang dia dilarang untuk menampakkannya.

Dikutip dari : http://al-atsariyyah.com/

Siapakah Suamimu di Surga Ukhti?

Saudariku muslimah, tahukah kamu siapa suamimu di surga kelak?(1)  Artikel di bawah ini akan menjawab pertanyaan anti. Ini bukan ramalan dan bukan pula tebakan, tapi kepastian (atau minimal suatu prediksi yang insya Allah sangat akurat), yang bersumber dari wahyu dan komentar para ulama terhadapnya. Berikut uraiannya:

Perlu diketahui bahwa keadaan wanita di dunia, tidak lepas dari enam keadaan:

  1. Dia meninggal sebelum menikah.
  2. Dia meninggal setelah ditalak suaminya dan dia belum sempat menikah lagi sampai meninggal.
  3. Dia sudah menikah, hanya saja suaminya tidak masuk bersamanya ke dalam surga, wal’iyadzu billah.
  4. Dia meninggal setelah menikah baik suaminya menikah lagi sepeninggalnya maupun tidak (yakni jika dia meninggal terlebih dahulu sebelum suaminya).
  5. Suaminya meninggal terlebih dahulu, kemudian dia tidak menikah lagi sampai meninggal.
  6. Suaminya meninggal terlebih dahulu, lalu dia menikah lagi setelahnya.

Berikut penjelasan keadaan mereka masing-masing di dalam surga:

  • Perlu diketahui bahwa keadaan laki-laki di dunia, juga sama dengan keadaan wanita di dunia: Di antara mereka ada yang meninggal sebelum menikah, di antara mereka ada yang mentalak istrinya kemudian meninggal dan belum sempat menikah lagi, dan di antara mereka ada yang istrinya tidak mengikutinya masuk ke dalam surga. Maka, wanita pada keadaan pertama, kedua, dan ketiga, Allah -’Azza wa Jalla- akan menikahkannya dengan laki-laki dari anak Adam yang juga masuk ke dalam surga tanpa mempunyai istri karena tiga keadaan tadi. Yakni laki-laki yang meninggal sebelum menikah, laki-laki yang berpisah dengan istrinya lalu meninggal sebelum menikah lagi, dan laki-laki yang masuk surga tapi istrinya tidak masuk surga.

Ini berdasarkan keumuman sabda Nabi -Shallallahu ‘alaihi wasallam- dalam hadits riwayat Muslim no. 2834 dari sahabat Abu Hurairah -radhiyallahu ‘anhu-:

مَا فِي الْجَنَّةِ أَعْزَبٌ

“Tidak ada seorangpun bujangan dalam surga”.

Syaikh Ibnu ‘Utsaimin -rahimahullah- berkata dalam Al-Fatawa jilid 2 no. 177, “Jawabannya terambil dari keumuman firman Allah -Ta’ala-:

وَلَكُمْ فِيهَا مَا تَشْتَهِي أَنْفُسُكُمْ وَلَكُمْ فِيهَا مَا تَدَّعُونَ. نُزُلاً مِنْ غَفُوْرٍ رَحِيْمٍ

“Di dalamnya kalian memperoleh apa yang kalian inginkan dan memperoleh (pula) di dalamnya apa yang kalian minta. Turun dari Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Fushshilat: 31)

Dan juga dari firman Allah -Ta’ala-:

وَفِيهَا مَا تَشْتَهِيهِ الْأَنْفُسُ وَتَلَذُّ الْأَعْيُنُ وَأَنْتُمْ فِيهَا خَالِدُونَ

“Dan di dalam surga itu terdapat segala apa yang diingini oleh hati dan sedap (dipandang) mata dan kalian kekal di dalamnya.” (Az-Zukhruf: 71)

Seorang wanita, jika dia termasuk ke dalam penghuni surga akan tetapi dia belum menikah (di dunia) atau suaminya tidak termasuk ke dalam penghuhi surga, ketika dia masuk ke dalam surga maka di sana ada laki-laki penghuni surga yang belum menikah (di dunia). Mereka -maksud saya adalah laki-laki yang belum menikah (di dunia)-, mereka mempunyai istri-istri dari kalangan bidadari dan mereka juga mempunyai istri-istri dari kalangan wanita dunia jika mereka mau. Demikian pula yang kita katakan perihal wanita jika mereka (masuk ke surga) dalam keadaan tidak bersuami atau dia sudah bersuami di dunia akan tetapi suaminya tidak masuk ke dalam surga. Dia (wanita tersebut), jika dia ingin menikah, maka pasti dia akan mendapatkan apa yang dia inginkan, berdasarkan keumuman ayat-ayat di atas”.
Dan beliau juga berkata pada no. 178, “Jika dia (wanita tersebut) belum menikah ketika di dunia, maka Allah -Ta’ala- akan menikahkannya dengan (laki-laki) yang dia senangi di surga. Maka, kenikmatan di surga, tidaklah terbatas kepada kaum lelaki, tapi bersifat umum untuk kaum lelaki dan wanita. Dan di antara kenikmatan-kenikmatan tersebut adalah pernikahan”.

  • Adapun wanita pada keadaan keempat dan kelima, maka dia akan menjadi istri dari suaminya di dunia.
  • Adapun wanita yang menikah lagi setelah suaminya pertamanya meninggal, maka ada perbedaan pendapat di kalangan ulama. Sebagian ulama -seperti Syaikh Ibnu ‘Ustaimin- berpendapat bahwa wanita tersebut akan dibiarkan memilih suami mana yang dia inginkan.

Ini merupakan pendapat yang cukup kuat, seandainya tidak ada nash tegas dari Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wasallam- yang menyatakan bahwa seorang wanita itu milik suaminya yang paling terakhir. Beliau -Shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda:

اَلْمَرْأَةُ لِآخِرِ أَزْوَاجِهَا

“Wanita itu milik suaminya yang paling terakhir”. (HR. Abu Asy-Syaikh dalam At-Tarikh hal. 270 dari sahabat Abu Darda` dan dishohihkan oleh Syaikh Al-Albany dalam Ash-Shohihah: 3/275/1281)

Dan juga berdasarkan ucapan Hudzaifah -radhiyallahu ‘anhu- kepada istri beliau:

إِنْ شِئْتِ أَنْ تَكُوْنِي زَوْجَتِي فِي الْجَنَّةِ فَلاَ تُزَوِّجِي بَعْدِي. فَإِنَّ الْمَرْأَةَ فِي الْجَنَّةِ لِآخِرِ أَزْوَاجِهَا فِي الدُّنْيَا. فَلِذَلِكَ حَرَّمَ اللهُ عَلَى أَزْوَاجِ النَّبِيِّ أَنْ يَنْكِحْنَ بَعْدَهُ لِأَنَّهُنَّ أَزْوَاجُهُ فِي الْجَنَّةِ

“Jika kamu mau menjadi istriku di surga, maka janganlah kamu menikah lagi sepeninggalku, karena wanita di surga milik suaminya yang paling terakhir di dunia. Karenanya, Allah mengharamkan para istri Nabi untuk menikah lagi sepeninggal beliau karena mereka adalah istri-istri beliau di surga”. (HR. Al-Baihaqi: 7/69/13199 )

Faidah:
Dalam sholat jenazah, kita mendo’akan kepada mayit wanita:

وَأَبْدِلْهَا زَوْجًا خَيْرًا مِنْ زَوْجِهَا

“Dan gantilah untuknya suami yang lebih baik dari suaminya (di dunia)”.

Masalahnya, bagaimana jika wanita tersebut meninggal dalam keadaan belum menikah. Atau kalau dia telah menikah, maka bagaimana mungkin kita mendo’akannya untuk digantikan suami sementara suaminya di dunia, itu juga yang akan menjadi suaminya di surga?

Jawabannya adalah sebagaimana yang dikatakan oleh Syaikh Ibnu ‘Utsaimin -rahimahullah-. Beliau menyatakan, “Kalau wanita itu belum menikah, maka yang diinginkan adalah (suami) yang lebih baik daripada suami yang ditakdirkan untuknya seandainya dia hidup (dan menikah). Adapun kalau wanita tersebut sudah menikah, maka yang diinginkan dengan “suami yang lebih baik dari suaminya” adalah lebih baik dalam hal sifat-sifatnya di dunia (2). Hal ini karena penggantian sesuatu kadang berupa pergantian dzat, sebagaimana misalnya saya menukar kambing dengan keledai. Dan terkadang berupa pergantian sifat-sifat, sebagaimana kalau misalnya saya mengatakan, “Semoga Allah mengganti kekafiran orang ini dengan keimanan”, dan sebagaimana dalam firman Allah -Ta’ala-:

يَوْمَ تُبَدَّلُ الْأَرْضُ غَيْرَ الْأَرْضِ وَالسَّمَوَاتُ

“(Yaitu) pada hari (ketika) bumi diganti dengan bumi yang lain dan (demikian pula) langit.” (Ibrahim: 48)
Bumi (yang kedua) itu juga bumi (yang pertama) akan tetapi yang sudah diratakan, demikian pula langit (yang kedua) itu juga langit (yang pertama) akan tetapi langit yang sudah pecah”. Jawaban beliau dinukil dari risalah Ahwalun Nisa` fil Jannah karya Sulaiman bin Sholih Al-Khurosy.
___________
(1) Karenanya sebelum berpikir masalah ini, pikirkan dulu bagaimana caranya masuk surga.

(2) Maksudnya, suaminya sama tapi sifatnya menjadi lebih baik dibandingkan ketika di dunia.

Dikutip dari : http://al-atsariyyah.com

Anjuran Menyambung Silaturahim

Dari Abu Hurairah radhiallahu anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda:

إِنَّ اللَّهَ خَلَقَ الْخَلْقَ حَتَّى إِذَا فَرَغَ مِنْ خَلْقِهِ قَالَتْ الرَّحِمُ هَذَا مَقَامُ الْعَائِذِ بِكَ مِنْ الْقَطِيعَةِ قَالَ نَعَمْ أَمَا تَرْضَيْنَ أَنْ أَصِلَ مَنْ وَصَلَكِ وَأَقْطَعَ مَنْ قَطَعَكِ قَالَتْ بَلَى يَا رَبِّ قَالَ فَهُوَ لَكِ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَاقْرَءُوا إِنْ شِئْتُمْ:
فَهَلْ عَسَيْتُمْ إِنْ تَوَلَّيْتُمْ أَنْ تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ وَتُقَطِّعُوا أَرْحَامَكُمْ. أُوْلَئِكَ الَّذِينَ لَعَنَهُمُ اللَّهُ فَأَصَمَّهُمْ وَأَعْمَى أَبْصَارَهُمْ

“Sesungguhnya Allah menciptakan seluruh makhluk. Sampai ketika Allah selesai menciptakan semua makhluk, maka rahim pun berkata, “Inikah tempat bagi yang berlindung kepadanya dari terputusnya silaturahim?’ Allah menjawab, “Benar. Tidakkah kamu senang kalai Aku akan menyambung orang yang menyambungmu dan memutuskan orang yang memutuskanmu?” Rahim menjawab, “Tentu, wahai Rabb.” Allah berfirman, “Kalau begitu itulah yang kamu miliki.” Setelah itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Jika kalian mau, maka bacalah ayat berikut ini: Maka apakah kiranya jika kalian berkuasa maka kalian akan berbuat kerusakan di muka bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaan kalian? Mereka itulah orang-orang yang dilaknati Allah dan ditulikan-Nya telinga mereka dan dibutakan-Nya penglihatan mereka.” (QS. Muhammad: 22-23). (HR. Al-Bukhari no. 5987 dan Muslim no. 2554)
Dari Anas bin Malik radhiallahu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ وَيُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ

“Barangsiapa yang ingin dilapangkan rezkinya, dan ingin dipanjangkan usianya, maka hendaklah dia menyambung silaturrahmi.” (HR. Al-Bukhari no. 5986)
Dari Abdullah bin ‘Amr dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa beliau bersabda:

لَيْسَ الْوَاصِلُ بِالْمُكَافِئِ وَلَكِنْ الْوَاصِلُ الَّذِي إِذَا قُطِعَتْ رَحِمُهُ وَصَلَهَا

“Orang yang menyambung silaturrahmi bukanlah orang yang membalas akan tetapi orang yang menyambung silaturrahmi adalah orang yang menyambungnya ketika dia itu terputus.” (HR. Al-Bukhari no. 5991)

Dari Abu Hurairah radhiallahu anhu bahwasanya ada seorang laki-laki yang pernah berkata, “Ya Rasulullah, saya mempunyai kerabat. Saya selalu berupaya untuk menyambung silaturahim kepada mereka, tetapi mereka memutuskannya. Saya selalu berupaya untuk berbuat baik kepada mereka, tetapi mereka menyakiti saya. Saya selalu berupaya untuk lemah lembut terhadap mereka, tetapi mereka tak acuh kepada saya.” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

لَئِنْ كُنْتَ كَمَا قُلْتَ فَكَأَنَّمَا تُسِفُّهُمْ الْمَلَّ وَلَا يَزَالُ مَعَكَ مِنْ اللَّهِ ظَهِيرٌ عَلَيْهِمْ مَا دُمْتَ عَلَى ذَلِكَ

“Jika benar seperti apa yang kamu katakan, maka kamu seperti memberi makan mereka debu yang panas, dan selama kamu berbuat demikian maka pertolongan Allah akan selalu bersamamu.”(HR. Muslim no. 2558)

Penjelasan ringkas:
Islam menganjurkan untuk menyambung hubungan dan bersatu serta mengharamkan pemutusan hubungan, saling menjauhi, dan semua perkara yang menyebabkan lahirnya perpecahan. Karenanya Islam menganjurkan untuk menyambung silaturahim dan memperingatkan agar jangan sampai ada seorang muslim yang memutuskannya. Dan Nabi shalllallahu alaihi wasallam mengabarkan bahwa bukanlah dikatakan menyambung silaturahmi ketika seorang membalas kebaikan orang yang berbuat kebaikan kepadanya, yakni menyambung hubungan dengan orang yang senang kepadanya. Akan tetapi yang menjadi hakikat menyambung silaturahmi adalah ketika dia membalas kebaikan orang yang berbuat jelek kepadanya atau menyambung hubungan dengan orang yang memutuskan hubungan dengannya.

Nabi shallallahu alaihi wasallam mengabarkan bahwa balasan disesuaikan dengan jenis amalan. Karenanya, barangsiapa yang menyambung hubungan silaturahminya maka Allah juga akan menyambung hubungan dengannya, dan di antara bentuk Allah menyambungnya adalah Allah akan menambah rezekinya, menambah umurnya, dan senantiasa memberikan pertolongan kepadanya.

Sebaliknya, siapa saja yang memutuskan hubungan silaturahimnya maka Allah juga akan memutuskan hubungan dengannya. Dan ketika Allah sudah memutuskan hubungan dengannya maka Allah tidak akan perduli lagi dengannya, Allah akan menjadikannya buta dan tuli, dan menimpakan laknat kepadanya. Dan siapa yang mendapatkan laknat maka sungguh dia telah dijauhkan dari kebaikan dan rahmat Allah Ta’ala yang Maha Luas.

Dikutip dari : http://al-atsariyyah.com

Keutamaan Kanan daripada Kiri

Dari Aisyah radhiallahu anha dia berkata:

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُعْجِبُهُ التَّيَمُّنُ فِي تَنَعُّلِهِ وَتَرَجُّلِهِ وَطُهُورِهِ وَفِي شَأْنِهِ كُلِّهِ

“Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam suka memulai dari sebelah kanan saat mengenakan sandal, menyisir rambut, bersuci, dan dalam seluruh aktifitas beliau.” (HR. Al-Bukhari no. 5926 dan Muslim no. 268)

Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

إِذَا انْتَعَلَ أَحَدُكُمْ فَلْيَبْدَأْ بِالْيَمِينِ وَإِذَا نَزَعَ فَلْيَبْدَأْ بِالشِّمَالِ لِيَكُنْ الْيُمْنَى أَوَّلَهُمَا تُنْعَلُ وَآخِرَهُمَا تُنْزَعُ

“Apabila salah seorang dari kalian memakai sandal, hendaknya memulai dengan yang kanan, dan apabila dia melepas hendaknya mulai dengan yang kiri. Hendaknya yang kanan pertama kali mengenakan sandal dan yang terakhir melepasnya.” (HR. Al-Bukhari no. 5856 dan Muslim no. 2097)

Dari Anas bin Malik radhiallahu anhu:

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أُتِيَ بِلَبَنٍ قَدْ شِيبَ بِمَاءٍ وَعَنْ يَمِينِهِ أَعْرَابِيٌّ وَعَنْ يَسَارِهِ أَبُو بَكْرٍ فَشَرِبَ ثُمَّ أَعْطَى الْأَعْرَابِيَّ وَقَالَ الْأَيْمَنَ فَالْأَيْمَنَ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam diberi minum susu campur air, sementara di sebelah kanan beliau ada seorang badui dan di sebelah kiri beliau ada Abu Bakr. Maka beliau minum kemudian beliau berikan (sisanya) kepada orang badui tersebut. Beliau bersabda: “Hendaknya dimulai dari sebelah kanan dahulu dan seterusnya.” (HR. Al-Bukhari no. 5619 dan Muslim no. 29029)

Dari Abdullah bin ‘Umar radhiallahu anhuma bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

إِذَا أَكَلَ أَحَدُكُمْ فَلْيَأْكُلْ بِيَمِينِهِ وَإِذَا شَرِبَ فَلْيَشْرَبْ بِيَمِينِهِ فَإِنَّ الشَّيْطَانَ يَأْكُلُ بِشِمَالِهِ وَيَشْرَبُ بِشِمَالِهِ

“Jika seseorang di antara kalian makan, maka hendaknya dia makan dengan tangan kanannya. Jika dia minum maka hendaknya juga minum dengan tangan kanannya. Karena setan makan dengan tangan kirinya dan minum dengan tangan kirinya pula.” (HR. Muslim no. 3764)

Penjelasan ringkas:

Memulai dengan yang kanan pada seluruh amalan-amalan yang sifatnya amalan kemuliaan merupakan salah satu di antara tuntunan Islam yang mulia. Ini menunjukkan bagaimana keuniversalan Islam karena menyinggung masalah yang mungkin dianggap remeh banyak orang, yaitu dalam mengerjakan sesuatu apakah dimulai dari yang kanan atau yang kiri, menggunakan tangan kanan atau tangan kiri, menggunakan kaki kanan atau kaki kiri.

Adapun hikmah dianjurkannya memulai dengan yang kanan pada amalan-amalan yang sifatnya kemuliaan, karena kanan itu lebih mulia daripada kiri.

Sangat banyak dalil-dalil yang menunjukkan hal ini, di antaranya:

1.    Kedua tangan Allah Ta’ala adalah kanan. Berdasarkan hadits Abdullah bin Amr bin Al-Ash: Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda:

إِنَّ الْمُقْسِطِينَ عِنْدَ اللَّهِ عَلَى مَنَابِرَ مِنْ نُورٍ عَنْ يَمِينِ الرَّحْمَنِ عَزَّ وَجَلَّ وَكِلْتَا يَدَيْهِ يَمِينٌ الَّذِينَ يَعْدِلُونَ فِي حُكْمِهِمْ وَأَهْلِيهِمْ وَمَا وَلُوا

“Orang-orang yang berlaku adil berada di sisi Allah di atas mimbar (panggung) yang terbuat dari cahaya, di sebelah kanan Ar-Rahman ‘Azza wa Jalla -sedangkan kedua tangan Allah adalah kanan-: Yaitu orang-orang yang berlaku adil dalam hukum, adil dalam keluarga, dan adil dalam melaksanakan tugas yang di bebankan kepada mereka.” (HR. Muslim no. 3406)

2.    Kebiasaan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam memulai setiap aktifitasnya dengan yang kanan.

3.    Karena menggunakan tangan kiri dalam makan adalah perbuatan menyerupai setan, padahal Islam telah mengharamkan seseorang itu serupa dengan setan.

4.    Nabi shallallahu alaihi wasallam mendahulukan orang yang di sebelah kanan beliau padahal dia hanyalah arab badui dan mengundurkan orang yang ada di sebelah kiri beliau padahal di situ ada Abu Bakr.

5.    Dalam wudhu anggota wudhu yang kanan lebih didahulukan untuk dicuci daripada yang kiri.

6.    Dan masih banyak dalil-dalil lainnya.

Karenanya disunnahkan seseorang untuk mulai dengan yang kanan pada setiap amalan kemuliaan, seperti: Masuk masjid mulai dengan kaki kanan dan keluar dengan kaki kiri, masuk wc dengan kaki kiri dan keluar darinya dengan tangan kanan, menyentuh kemaluan dengan tangan kiri, bersiwak dengan tangan kanan. Wallahu a’lam

Sumber : http://al-atsariyyah.com/keutamaan-kanan-daripada-kiri.html

Kisah Seorang Mu’min dan Tukang Cukur

Kisah ini, sebenarnya sudah banyak yang mengutip di berbagai media, khususnya di internet. Bila kita ketik judul diatas di google, maka banyak link yang menceritakan kisah ini. Namun sebagai salah satu bahan renungan kita, kisah ini saya copy paste dari web tanbihun.

Pernah terjadi di Rusia disebuah negri yang terkenal atheis, seorang pria pergi ke tukang cukur. Saat rambutnya dicukur ia terserang kantuk. Sehingga membuat seorang tukang cukur kesal, dan untuk membuatnya agar tidak kantuk si tukang cukur mengajaknya bicara.

“pak.. apakah bapak termasuk orang yang percaya dengan adanya Tuhan?”

Pelanggan menjawab “ya.. saya percaya dengan adanya Tuhan!”

“mengapa anda bertanya demikian” pelanggan balik bertanya

“kalau benar didunia ini ada Tuhan, dan sifatNya adalah maha pengasih dan penyayang, menurut saya tidak mungkin didunia ada orang yang punya banyak masalah, terlilit hutang, terserang penyakit, kelaparan, kemiskinan dan lain-lain. Ini kan bukti sederhana bahwa didunia ini tidak ada Tuhan. Tukang cukur berbicara dengan lantang

Si pelanggan terdiam, dalam hati dengan keras ia mencari jawabannya. Namun sayang sampai cukuran selesai ia belum juga menemukan jawabannya. Maka pembicaraan pun terhenti, sementara si tukang cukur tersenyum sinis, seolah ia telah memenangkan perdebatan.

Akhirnya saat cukuran selesai, si pelanggan bangkit dari kursi dan memberikan ongkos yang cukup atas jasa cukuran.

Namun dalam langkahnya, ia masih tetap mencari jawaban atas perdebatan kecil yang baru ia jalani. Saat berdiri didepan pintu barbe shop, ia tarik tungkai pintu kemudian hendak melangkahkan kakinya keluar.

Dan pada saat itu Alloh SWT mengirimkan jawaban untuknya.

Matanya tertumbuk pada seorang pria gila yang berparas awut-awutan. Rambut panjang tak terurus, janggut lebat berantakan.

Demi mencermati gerak geriknya, pintu barbe shop yang tadi telah ia buka maka ditutup kembali. Ia pun datang lagi kepada tukang cukur dan berkata “pak… menurut saya yang tidak ada didunia ini adalah TUKANG CUKUR..!”, merasa aneh dengan pertanyaan itu, tukang cukur balik bertanya, “bagaimana bisa anda berkata demikian, padahal baru saja rambut anda selesai saya pangkas..!”

“Begini pak, di jalan saya dapati orang yang kurang waras. Rambutnya panjang tak terurus, janggutnya pun lebat berantakan. Kalau benar didunia ini ada tukang cukur, rasanya tidak mungkin ada pria yang berperawakan seperti itu!” si pelanggan menyampaikan penjelasannya.

Tukang cukur tersenyum, sejenak dengan entek ia berkata. “pak.. bukan tukang cukur yang tidak ada didunia ini, masalah sebenarnya adalah pria gila yang anda ceritakan tadi tidak mahu hadir dan datang kesini, ketempat saya… andai ia datang maka rambut dan janggutnya akan saya rapikan sehingga ia tidak berperawakan seperti itu!”

Tiba-tiba si pelanggan meledakkan suaranya, “Naaaahhhhhhh…. itu dia jawabannya!!, rupanya anda juga telah menemukan jawaban dari pertanyaan yang anda lontarkan!!”, “apa maksud anda!” si tukang cukur bingung tidak mengerti dengan pertanyaan pelanggannya.

“anda kan bilang… bahwa didunia ini banyak manusia yang punya masalah, kalau saja mereka datang kepada Tuhan pastilah masalah mereka akan terselesaikan. Persis sama kejadiannya bila pria gila tadi datang kemari dan mencukurkan rambutnya kepada anda!” si tukang cukur hanya bengong tanpa bisa berkata apa-apa lagi.